Jumat, 15 Mei 2009


MENGGADAIKAN INTEGRITAS JABATAN

Sudah dianggap biasa pejabat publik menerima berbagai upeti dimasa jabatannya. Berbalut kata “hadiah” upeti ini kemudian dibudayakan sebagai upaya menjalin “saling pengertian” antara pejabat publik dengan pihak pihak yang ingin memanfaatkan kekuasaan sang pejabat. Karena itulah jangan kaget bila anda sering mendapatkan kabar bahwa banyak pejabat publik kita yang memiliki banyak rumah megah, berderet mobil mewah atau tanah yang terhampar dimana mana. Padahal bila menghitung dari gaji dan berbagai tunjangannya saja, mustahil semua itu mereka dapatkan.

Sebenarnya bukan semata mata soal upeti itu saja yang menjadi masalah. Yang paling mengkhawatirkan justeru adalah imbas dari pemberian upeti tersebut terhadap berbagai keputusan (baca: kebijakan) yang akan ditempuh sang pejabat. Mudah ditebak. Dipastikan pejabat ini nantinya akan menempuh keputusan yang menguntungkan atau melindungi kepentingan sang pemberi upeti. Apalagi pejabat itu memang bermental aji mumpung. Mumpung masih menjabat maka yang ada dibenaknya adalah bagaimana memaksimalkan keuntungan dari kekuasaannya. Jelas bukan untuk rakyat yang harusnya dibela kepentingannya, namun bagi isi perut, kepentingan keluarga atau kroni kroninya. Dalam benaknya hanya terpikir, “Kapan lagi toh bisa begini?.”

Entahlah, tiba tiba saja saya menerawang jauh dan ditelinga saya terngiang kata kata yang sulit saya lupakan yang terluncur dari bibir alharhum mantan Jaksa Agung Baharuddin Lopa. Begini katanya, “Jika saudara kebetulan pejabat tinggi dan membuat pesta pernikahan anak saudara, maka lihatlah niscaya tidak terhingga orang orang yang berkepentingan datang tanpa diminta mengulurkan bantuan dan sumbangannya. Sekali saudara menerima sumbangan itu, berarti saudara telah menggadaikan integritas jabatan dan pribadi saudara.” (Syam Alam)


SARIBAN NAMANYA ...

Sariban namanya. Dia sudah tidak muda lagi. Rambut putihnya menyembul dibalik topi caping yang selalu dikenakannya. Walau usianya sudah beranjak 66 tahun namun nafasnya masih panjang dan suaranya lantang. Dengan sepeda tuanya – yang disana sini dilengkapi alat alat kebersihan - dia tak pernah menyerah untuk terus berkeliling kota Bandung memunguti sampah yang berserakan, mencabuti paku paku dipepohonan atau menyapu jalan yang dirasa masih kotor. Disengat panas matahari otot otot tangannya tampak berkilat. Untuk ukuran orang seusianya, aktifitas yang dilakukan Sariban sungguh berat. Tapi dia tak hirau dengan semua keterbatasannya itu. Seakan tak ingin berkompromi dengan tubuh kecilnya yang telah beranjak senja.

Sariban namanya. Pensiunan karyawan Rumah Sakit Mata Cicendo ini mungkin bukan siapa siapa. Apalagi buat anda yang dulu terlanjur meneriakinya sebagai orang gila. Yah, Sariban memang pernah dianggap kurang waras, sinting atau setidaknya dianggap sebagai "nu gelo anyar" (orang yang baru gila).

Sariban namanya. Dia bertutur tentang berton lebih paku yang dikumpulkan dirumahnya. Bukan paku yang dia beli dari toko material untuk membangun rumah. Bukan. Tumpukan berton paku itu tadinya tertancap dipepohonan diseantero Bandung. Sariban tak tega. Makanya tangan kecilnya rajin mencabuti paku paku tadi dari pohon pohon dikota Bandung. Katanya, "Pohon pohon itu kalau bisa ngomong, pasti akan berteriak kesakitan dipaku sana sini."

Sariban namanya. Dia tidak mengharapkan bayaran kita. Tulus dia kayuh sepeda tuanya mengitari kota Bandung hanya untuk mengabdi pada komitmen yang dia paku dalam hatinya. Sebuah cita cita luhur untuk menjaga lingkungan hidup agar terus bersahabat, bersih, hijau dan berbunga. Sariban meyakini antara lingkungan hidup dengan manusia dulunya telah terjalin sebuah interaksi yang utuh. Untuk itu lingkungan hidup rela dimanfaatkan untuk menopang segala kebutuhan hidup manusia. Namun kini manusia telah melampaui batas maksimal pemanfaatan tersebut. Yang terjadi saat ini adalah penzoliman manusia atas lingkungan hidupnya. Sariban mengelus dada. “Sungguh ironis,” katanya. Maka akibatnya telah ditanggung manusia. Planet yang bernama bumi ini kini terasa semakin garing, panas dan kurang bersabat.

Sariban namanya. Dia kembali mengelus dada. Atmosfer yang semakin menipis, ketersediaan air yang semakin terkikis dan pepohonan yang semakin tergerus kegilaan jaman, adalah potret yang ingin dia sampaikan kepada kita.

Sariban namanya. Sungguh jangan remehkan apa yang tlah dia buat. Dia mungkin bukan siapa siapa. Tapi bila ada berjuta orang yang memiliki tekad seperti yang dia punya, kita tak perlu teriak soal global warming dan berbagai krisis lingkungan hidup lainnya.

Sariban namanya. Dia masih rajin memunguti berserak sampah yang mungkin tadinya kita buang dari balik jendela mobil. Tangannya yang berkilat diterpa panas matahari mengajarkan kita agar membuang sampah pada tempatnya. Sederhana memang. Tapi dari hal yang sederhana itu banyak orang yang kemudian terlihat menjadi seakan tidak beradab. Karena dengan semena mena telah menyakiti lingkungan hidupnya sendiri. (Syam Alam)

Minggu, 22 Maret 2009


DEMI SEBUAH KURSI

Oleh: Syam Alam

Kursi sudah lama menjadi bagian dari keseharian hidup manusia. Bahkan bagi manusia modern, kursi sangatlah penting keberadaannya. Dikantor atau dimana pun kita berada, selalu mencari kursi yang paling nyaman untuk diduduki. Ditempat kerja, anda pasti akan merasa senang bila mendapat kursi yang bisa berputar putar, memiliki kaki yang beroda, apalagi sandarannya bisa pula direbahkan kebelakang. Ada anggapan bahwa dengan kursi yang ergonomis ini kita dapat bekerja berjam jam lamanya tanpa merasa lelah.

Terlepas dari enak dan tidaknya kursi, yang pasti kursi tetap dicari. Dalam posisi dikereta api yang penuh sesak pun misalnya - sehingga mengharuskan penumpangnya berdiri - keberadaan kursi kecil, keras dan tak nyaman pun jadi rebutan. Itulah kursi, mau enak atau tidak dikala diperlukan dia menjadi barang yang istimewa.

Kini, semakin banyak orang mencari kursi. Bukan kursi sembarang kursi tentunya. Dikala masa pemilu digulirkan, seorang calon legislatif harus rela merogoh koceknya dalam dalam hanya untuk mencari sebuah kursi. Kisarannya bisa mencapai ratusan juta hingga milyaran rupiah. Tak cukup disitu. Dia pun harus nampang dimana mana. Baliho, poster, stiker, leaflet, kaos dan spanduk bahkan sampai kaca film diangkutan kota bergambar diri dan janji janji politiknya disebarkan dengan biaya yang tidak sedikit.

Lagi lagi, tak cukup disitu. Dia pun dituntut untuk beriklan dimedia massa cetak, elektronik bahkan sampai kemedia on line. Memang tidak semua calon legislatif mampu meraih semua cara beriklan seperti itu, sebab semuanya sangat tergantung pada tebal dan tipisnya kantong. Bagi calon legislatif yang berkantong cekak, nampang dipohon pohon, tembok rumah orang atau dipintu angkutan kota, mungkin sudah dirasa cukup.

Beragam motivasi orang untuk berbondong antri menjadi calon legislatif. Ada yang karena mengaku panggilan jiwa sebagai kader sebuah partai politik. Ada yang ingin mencoba mewakili rakyat karena merasa punya kemampuan untuk itu. Ada yang sudah tidak tahu bagaimana caranya lagi mengaktualisasikan diri. Ada yang mencoba peruntungan baru. Celakanya, ada juga yang berambisi menjadi kaya raya dengan cara ini. Masih banyak lagi motivasi orang menjadi calon legislatif. Sehingga tidak aneh bila calon legislatif berasal dari berbagai lapisan masyarakat, hingga seorang pedagang bakso pun punya nyali ikut dalam “audisi” ini. Semuanya demi sebuah kursi ...

Tapi kursi tetaplah kursi. Anda jangan lama lama duduk disana. Selain, karena bisa menyebabkan anda menjadi gemuk - bagi yang belum – duduk terlalu lama dikursi dapat merusak organ tubuh kita. Hal itu telah diingatkan ilmu pengobatan klasik Cina yang dikenal dengan Huang Di Nei Jing, 2000 yang lalu. Dari sisi yang lain, anda tidak bisa terlalu lama duduk dikursi karena sebagai wakil rakyat – bila terpilih – anda harus terus bergerak menyerap aspirasi dan kegundahan masyarakat. Dan itu pasti tidak dapat anda lakukan bila hanya duduk terpaku dikursi dan mengandalkan laporan dari staf anda.

Biarpun sangat dibutuhkan, anda tetap harus hati hati dengan yang namanya kursi. Setidaknya anda harus bijak dalam memperlakukannya. Kursi yang nyaman – dengan berbagai keunggulannya – bisa bisa hanya menjadikan anda malas untuk bergerak. Pada akhirnya, kursi yang nyaman memanjakan kita. Cukup dengan mendorong kursi dengan kaki, kita sudah bisa menjangkau atau mengambil sesuatu. Untuk berdiri, jelas malas rasanya. Bukan itu saja. Saking enaknya duduk dikursi, sampai sampai kita bisa tertidur diatasnya dengan merebahkan sandarannya. Sepintas mengasyikan memang.

Semestinya, kursi yang nyaman hanya dipergunakan seperlunya saja. Bagi anggota dewan yang dituntut mobilitasnya untuk memperjuangkan suara rakyat, jelas mereka tidak bisa melakukannya bila hanya duduk ongkang kaki dikursinya yang empuk.

Yang harus dipahami, menjadi wakil rakyat selain memangku amanah yang berat, juga tidak mudah menjalaninya. Bayangkan saja, hanya untuk mendapatkan informasi yang akurat dari konstituennya saja, mereka harus banyak melakukan perjalanan melelahkan disela sela kesibukannya rapat dilingkungan dewan. Itulah yang mestinya dilakukan bila mereka ingin bekerja sepenuh hati dan sesuai janji. Melelahkan memang. Tapi itulah sejatinya sebuah pilihan. Pilihan untuk ingin dan mau dipilih sebagai wakil rakyat.

Selasa, 17 Maret 2009


Facebook Kita:

Sebuah Rekreasi Realitas?

Oleh: Syam Alam

“Facebook membantu anda berhubungan dan berbagi dengan orang orang dalam kehidupan anda“. Itulah kalimat pembuka yang saya jumpai dikala saya masuk kehalaman muka jejaring pertemanan dunia maya, Facebook.com.

Memang terasa mengasyikan setelah saya sukses membuat akun atas nama saya disana. Diera cyber saat ini menjadi amat mudah untuk mencari teman dari “dunia lain“ yang sebelumnya tidak kita kenal siapa jati dirinya. Memang ada pula teman teman lama yang ikut terjaring dalam jejaring pertemanan dunia maya ini. Kalimat kalimat seperti, “Eh, elu disini juga ya, ikut mejeng juga nih ye, hai kemana aja aduuhh senengnya bisa ketemu,” dan seterusnya, adalah sapaan yang biasa kita jumpai ketika “bertemu“ teman lama. Asyik memang ...

Maka mulailah Facebook “menghubungkan“ saya dengan sebuah dunia yang lain. Saya pun bisa “bersilaturahmi“ dengan kawan kawan lama yang bertahun tahun tidak bertemu. Walhasil, Facebook telah mampu memperpendek jarak antara kita. Luar biasa. Tak terpikirkan oleh saya - bahkan ketika Mark Zuckerberg mengembangkan Facebook pada Februari 2004 dari ruang kamarnya di Harvard - bahwa saya bisa menemukan “dunia lain” diluar realitas kehidupan sosial saya. Sebuah dunia dimana kita bisa berkontemplasi dengan masa lalu dan menjangkau masa kini.

Kita kemudian bisa saling merasakan keadaan masing masing. Keluh kesah, semangat, harapan bahkan imajinasi pun bisa saling kita komentari. Laiknya sebuah tatanan sosial, para penghuni Facebook pun bisa saling berkunjung, menanyakan kabar atau sekedar – maaf – mengunggah foto foto narsisnya. Sesuatu yang juga saya lakukan..

Ketika saya menulis kolom ini, jangan artikan saya ada diluar dunia anda. Saya adalah juga anda, sama sama penghuni Facebook. Kita sama sama “bertetangga” dan bukan masalah kan, kalau saya mencoba untuk mempertanyakan dunia yang melingkupi kita ini. Sebagaimana kita sering bertanya, mengapa rutinitas perkotaan membangunkan kita sebuah dunia yang serba hedonis.

Sekali lagi, saya sama seperti anda. Sama sama penghuni Facebook. Namun saya merasakan sebuah kegamangan – atau mungkin tepatnya ketakutan – bahwa apa yang kita lakukan ini hanya merupakan sebuah pelarian dari realitas sosial yang sengaja kita hindari.

Ketika seorang kawan mencoba mengaitkannya dengan filsafat metaforik dari Jean Baudrillard tentang sebuah kematian sosial, awalnya saya menolaknya. Saya pikir apa yang kita lakukan selama ini hanyalah sekedar lifestyle. Tak lebih. Namun ketika saya menemukan kegelisahan betapa saya ada disebuah dunia yang terisolasi dari realitas sosial, saya pun bertanya, jangan jangan memang benar saya tengah berada bahkan tertelan oleh sebuah model virtual society atau tatanan sosial semu yang terbentuk dari interaksi dan komunikasi yang bersifat artifisial.

Diera cyber seperti saat ini memang sulit bagi kita untuk menolak menjadi username di Facebook. Namun keniscayaan ini bukannya kemudian mematikan nalar kita untuk mengkritisi dunia kita yang baru ini. Barangkali adalah sebuah sikap yang bijak ketika kita mau menyisihkan waktu didunia maya ini, disisi lain kita masih memiliki gairah untuk menghidupkan realitas sosial dialam nyata. Artinya, kita tidak mau mentah mentah menelan semua ini hanya sebagai rekreasi realita belaka.

Maka, silahkan anda – dan juga saya tentunya – meneruskan keasyikan ini entah hanya sekedar memperbaiki status diwall, menulis puisi, membuat catatan harian, mengabarkan aktifitas atau mengunggah foto foto dan video yang ingin dibagikan. Namun disisi lain kita tetap menapakkan kaki kebumi untuk terus menjalankan aktifitas kehidupan sosial yang nyata. Dengan demikian kita tidak menyerahkan begitu saja kehidupan yang indah dalam fitrah Allah ini untuk diambil alih oleh kekuasaan media.

Sehingga, ketika kita asyik menjalin “kehidupan” didunia maya, kita masih getol untuk menyambangi teman, saudara atau tetangga disekitar kita walau hanya untuk sekedar menyapa, “Hai, bagaimana kabarnya, sehat sehat kan?!.” Sebagaimana yang sering kita tulis didinding teman teman kita, di Facebook.

Sabtu, 07 Maret 2009


Sang Pemecah Batu

Oleh: Syam Alam

Pernahkah anda - setidaknya - mengenal profesi pemecah batu?!. Batu batu yang menempel kuat sebagai pondasi rumah, taman atau dinding saluran air milik anda, tadinya adalah bongkahan batu besar. Saking besarnya, batu batu ini dibiarkan teronggok dipinggir kali atau dipegunungan. Lalu bagaimana caranya dia bisa tercerai berai dan menghiasi dinding rumah anda?. Lewat tangan dan kerja keras sang pemecah batulah, batu batu besar itu bisa diluluh lantakkan menjadi ukuran yang dikehendaki.

Kini perhatikan bagaimana sang pemecah batu melakukan pekerjaannya. Batu tadi berulang ulang dia coba pecahkan dengan palu godamnya. Berulang ulang, mungkin sampai beratus kali. Seperti tidak ada tanda tanda batu besar itu akan pecah berkeping keping. Seakan sia sia saja usaha sang pemecah batu untuk menaklukkan batu besar itu. Begitu seterusnya, hingga pada akhirnya, "Prrraaakkkk!!!." Dengan sekali hentakan kuat palu godam yang diayunkannya berhasil memecahkan batu besar itu.

Dari pecahan itulah kemudian dia dengan mudah memecahkannya kembali hingga menghasilkan beragam ukuran sesuai pesanan. Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari usaha sang pemecah batu ini?!. Jawabannya adalah, sebuah usaha keras tak mengenal kata menyerah.

Walau pada awalnya tidak ada tanda tanda batu besar tadi akan pecah berkeping keping, namun sang pemecah batu tidak mengendurkan upayanya. Dia terus mengayunkan palu godamnya. Terus dan terus, berulang kali tanpa henti.

Pertanyannya, apakah batu besar tadi pecah lantaran hantaman palu godam yang diayunkan terakhir kali?!. Ternyata tidak. Hantaman palu godam yang terakhir kali hanya "menyempurnakan" kerja hantaman hantaman yang beratus kali sebelumnya. Ini hasil sebuah kerja yang berkesinambungan. Pecahnya batu adalah lantaran akumulasi hantaman palu godam yang diayunkan sang pemecah batu.

Mari kita mengkaji diri. Betapa banyaknya kesia siaan yang kita buat hanya lantaran kita tidak sabar untuk bertahan menjalankan usaha. Kita mudah putus asa lantaran kesal dan jenuh menunggu hasil kerja yang kita dambakan belum juga tampak batang hidungnya. Kita menjadi patah dan tidak tawajjuh untuk terus "menghantamkan palu godam" pada usaha kita.

Kita sering menjadi kurang sabar untuk berusaha lebih keras lagi. Butuh keajaiban sebuah usaha bakal sukses hanya dengan "sekali ayun". Sedangkan kita tidak bisa dibayang bayangi terus oleh sebuah miracle. Harusnya kita percaya pada sebuah usaha yang terukur dan terkonsep dalam keteraturan. Terus dan terus. Lagi dan lagi. Sebab, bukan tidak mungkin hanya perlu "sekali ayun" lagi kesuksesan bakal kita raih. Sehingga sangat disayangkan ketika sampai pada tahapan seperti itu kita sudah menyerah.

Sungguh, betapa banyak dari kita yang pada akhirnya hanya menjadi penonton dari kesuksesan orang lain. Kita memang bukan pemecah batu yang hidupnya termarjinalkan. Tapi kita jangan malu untuk meniru kerja kerasnya yang tak mengenal kata menyerah.

Powered By Blogger

SEBUTLAH INI HANYA KERISAUAN
DIRUANG TUNGGU
SALING BERBAGI MENYIKAPI HIDUP
YANG TERUS BERGERAK

DAN TAK PERNAH KOMPROMI

TERIMA KASIH ANDA SUDAH MENENGOK
SIAPA TAHU
KEGUNDAHAN SAYA
ADALAH JUGA
KEGUNDAHAN ANDA

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Semoga apa yang saya tulis ini bisa memberi arti. Saya tidak menciptakan. Saya hanya merangkainya saja. Merangkum yang tercampak ditrotoar. Menggamit yang hampir terlupakan. Tak lebih. Sebab saya hanya ingin berbagi mimpi. Boleh jadi itu mimpi kita bersama. Tentang negeri yang bisa menjadi tempat bernaung bagi rakyatnya. Tentang alam yang mau menjadi teman berkisah. Tentang kedamaian yang sudah lama tak berkirim sapa. Sebab perjalanan hidup ini telah banyak bercerita. Tentang anak manusia yang terusir dari tanahnya sendiri. Tentang anak manusia yang tak bisa menghidupi keluarganya. Tentang anak manusia yang dimiskinkan, dibuat tak berdaya bahkan untuk menolong dirinya sendiri tak kuasa. Sebab perjalanan hidup ini telah banyak mengajarkan, apalah artinya kita bila tidak mampu memberi arti bagi sesama.