
Anak anak bangsa adalah aset dimasa depan. Pada mereka kita mengharapkan adanya sebuah generasi yang lebih baik, lebih bermartabat dan lebih jujur pada sejarah. Karena itulah, adalah juga tanggung jawab kita untuk mempersiapkan anak anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berani menatap kehidupan.
Namun yang harus dipahami, betapa anak anak butuh ‘ruang bermain’ yang dapat
mengantarkan mereka tumbuh sebagaimana mestinya. Sementara yang sering kita saksikan anak anak tak jarang kehilangan ruang untuk bermain sesuai usia dan tingkat pemahamannya. Mereka dimanjakan dengan berbagai fasilitas teknologi serta kecanggihan tontonan dan komunikasi. Dalam posisi seperti ini mereka sering menjadi tidak terlindungi dari informasi yang menyesatkan. Hasilnya, begitu banyak kejahatan yang dilakukan anak anak hanya karena mereka terinspirasi untuk meng copy paste tontonan kekerasan dan sejenisnya yang meruyak tak kenal waktu.
Sementara disisi lain, anak anak juga sering termarjinalkan sebagai obyek dari ambisi orang tua yang tidak terkendali. Mereka bahkan tidak punya hak untuk menikmati masa kanak kanak mereka. Boro boro bisa menikmati pendidikan, untuk berpikir bermain pun mereka terpasung. Kita bahkan telah merampas tawa dan keceriaan mereka. Mereka terlempar hidup sebagai buruh kasar, terhempas dijalanan bahkan diperjual belikan hak hidupnya. Nyaris tanpa perlindungan.
Dan ketika kekerasan sering mereka terima, hal ini bukannya menumbuhkan sikap bertanggung jawab pada kehidupannya, sebab sebaliknya anak anak kemudian menjadi terbiasa dengan kekerasan dan celakanya kemudian menjadi bagian dari kekerasan itu sendiri.
Maka sudah saatnya kita bangunkan kembali nurani kita agar lebih mampu memahami hakikat perilaku dan dunia anak anak. Bukankah kita dulu juga tumbuh sebagai anak anak sebelum kemudian dewasa dan uzur?. Bukankah kita dulu senang bila ‘ruang bermain’ kita diberikan dengan sepenuhnya tanpa dikebiri dan dimanipulasi?.
Sejatinya, itulah yang juga diinginkan oleh anak anak masa kini.
Dalam istilah Kahlil Gibran, kita ini hanyalah busur belaka ketika anak anak menjadi anak panahnya. Dan semestinya kita bisa menjadi busur yang mantap. Sebab hanya dalam rentangan busur yang mantap inilah kemudian anak panah melesat jauh menemui sasaran. Menuju masa depannya. (Syam Alam)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar