Minggu, 26 Juli 2009

ANAK MASA DEPAN


Anak anak bangsa adalah aset dimasa depan. Pada mereka kita mengharapkan adanya sebuah generasi yang lebih baik, lebih bermartabat dan lebih jujur pada sejarah. Karena itulah, adalah juga tanggung jawab kita untuk mempersiapkan anak anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berani menatap kehidupan.

Namun yang harus dipahami, betapa anak anak butuh ‘ruang bermain’ yang dapat
mengantarkan mereka tumbuh sebagaimana mestinya. Sementara yang sering kita saksikan anak anak tak jarang kehilangan ruang untuk bermain sesuai usia dan tingkat pemahamannya. Mereka dimanjakan dengan berbagai fasilitas teknologi serta kecanggihan tontonan dan komunikasi. Dalam posisi seperti ini mereka sering menjadi tidak terlindungi dari informasi yang menyesatkan. Hasilnya, begitu banyak kejahatan yang dilakukan anak anak hanya karena mereka terinspirasi untuk meng copy paste tontonan kekerasan dan sejenisnya yang meruyak tak kenal waktu.

Sementara disisi lain, anak anak juga sering termarjinalkan sebagai obyek dari ambisi orang tua yang tidak terkendali. Mereka bahkan tidak punya hak untuk menikmati masa kanak kanak mereka. Boro boro bisa menikmati pendidikan, untuk berpikir bermain pun mereka terpasung. Kita bahkan telah merampas tawa dan keceriaan mereka. Mereka terlempar hidup sebagai buruh kasar, terhempas dijalanan bahkan diperjual belikan hak hidupnya. Nyaris tanpa perlindungan.

Dan ketika kekerasan sering mereka terima, hal ini bukannya menumbuhkan sikap bertanggung jawab pada kehidupannya, sebab sebaliknya anak anak kemudian menjadi terbiasa dengan kekerasan dan celakanya kemudian menjadi bagian dari kekerasan itu sendiri.

Maka sudah saatnya kita bangunkan kembali nurani kita agar lebih mampu memahami hakikat perilaku dan dunia anak anak. Bukankah kita dulu juga tumbuh sebagai anak anak sebelum kemudian dewasa dan uzur?. Bukankah kita dulu senang bila ‘ruang bermain’ kita diberikan dengan sepenuhnya tanpa dikebiri dan dimanipulasi?.

Sejatinya, itulah yang juga diinginkan oleh anak anak masa kini.
Dalam istilah Kahlil Gibran, kita ini hanyalah busur belaka ketika anak anak menjadi anak panahnya. Dan semestinya kita bisa menjadi busur yang mantap. Sebab hanya dalam rentangan busur yang mantap inilah kemudian anak panah melesat jauh menemui sasaran. Menuju masa depannya. (Syam Alam)

Jumat, 24 Juli 2009

AIR KITA SEMUA


Air bagi anda mungkin tidak istimewa. Setiap pagi, bangun tidur anda kekamar mandi dan membersihkan diri sepuasnya. Anda menggunakan air yang melimpah sehingga tumpah dimana mana. Sementara sopir anda juga sibuk memandikan mobil kesayangan anda. Dia menggunakan slang, air lalu ngocor dengan derasnya dan tumpah kemana mana. Setelah itu, tukang kebun mulai menyirami tanaman dihalaman yang luas juga dengan slang. Air memercik kemana mana, tumpah kemana mana.

Pagi itu pembantu anda pun sudah bangun dan dia mulai mencuci alat alat dapur yang kotor lalu mencuci pakaian keluarga anda. Lalu semua anggota keluarga anda pun pagi itu juga menggunakan air untuk keperluannya. Semuanya. Mereka kadang menyiram kloset atau lantai kamar mandi dengan air yang berlebihan. Kadang ada juga yang lupa menutup kran air hingga air tumpah kemana mana.

Begitulah seterusnya dilakukan dari pagi, siang, sore, malam hingga kepagi lagi. Lagi dan lagi, sementara kita tidak pernah mau berpikir bahwa air yang kita gunakan suatu saat akan berhenti ngocor karena habis dieksploitasi secara masif. Saking dianggap biasa kita jadi tidak peduli bila air kemudian tumpah kemana mana. Orang sering berpikir picik,”La wong air airku sendiri kok , mau tak pake seenaknya ya itu urusanku!”. Hah?!. Airnya sendiri?!.

Dunia saat ini diancam oleh krisis air bersih. Bukan semata mata karena pertumbuhan penduduk dunia yang terus meningkat atau terganggunya keseimbangan ekosistem, namun juga karena penggunaan dan pemanfaatan air yang berlebihan dan tidak benar. Sudah saatnya kita memperlakukan air sebagai bahan bernilai yang dimanfaatkan secara bijak dan dijaga kelangsungannya.

Anehnya, dibalik sikap semena mena kita dalam mengekploitasi air, disisi lain kita justeru menyadari bahwa air merupakan sumber utama kehidupan. Kita menyadari tak dapat bertahan hidup tanpa air. Tapi ketika kita dihadapkan pada pemanfaatan air bagi kepentingan pribadi, kita pun berpikir parsial bahwa itu urusan kita sendiri dan kita cenderung menjadi tamak. Padahal, air dimuka bumi ini juga milik kita yang harus dijaga secara bersama sama pula. Karena yakinlah, kerusakan alam dibagian bumi yang lain akhirnya juga berdampak sampai kehalaman rumah kita.

Maka sudah saatnya kita mulai menghargai air dengan melakukan pemanfaatan sumber daya ini dengan baik dan benar. Banyak hal yang bisa lakukan untuk menghargai air. Tentu saja dimulai dari diri kita hingga keseluruh anggota keluarga. Hal ini dimulai dari tahap memberikan pemahaman, mengajarkan hingga dilaksanakan dalam perilaku semua anggota keluarga.

Biasanya kita sering meremehkan tahapan seperti ini. Padahal inilah langkah awal dalam mewariskan perilaku arif memanfaatkan air kesemua anggota keluarga. Pengajaran dan perilaku aktif kita pada akhirnya akan terus dilakukan semua anggota keluarga. Pada gilirannya kita harapkan perilaku seperti itu juga akan diwariskan kegenerasi berikutnya. Jadi jelas ini bukan masalah remeh temeh tapi justeru awal yang krusial yang sering dilupakan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai langkah awal menanamkan perilaku bijak memanfaatkan air pada keluarga?. Jelas yang pertama adalah memberikan pemahaman yang ajeg bahwa air adalah sumber kehidupan. Kita bisa menyisipkan materi pembicaraan tentang air dalam setiap kesempatan berkumpul bersama keluarga. Dari pemahaman yang sama inilah akhirnya semua anggota keluarga akan memiliki perilaku bijak yang sama pula. Bayangkan, bila ini dilakukan oleh semua keluarga dinegeri ini bahkan dunia. Mimpikah ini?. Boleh jadi mimpi. Tapi akan lebih tepat kalau ini disebut sebagai harapan.

Lalu bagaimana perilaku kita sehari hari dalam memanfaatkan air agar hemat, bermanfaat dan tidak mubazir?. Contoh sederhana adalah mematikan kran air saat menggosok gigi, memanfaatkan air bekas mencuci beras, sayur dan buah untuk menyiram tanaman, menggunakan ember saat mencuci mobil dan bukan slang karena akan sangat boros sekali. Yang tak kalah pentingnya adalah tidak membiarkan kran yang bocor karena walau setetes demi setes bila dibiarkan dapat membuang air hingga 13 liter perhari. Masih banyak yang bisa kita lakukan agar penggunaan air benar benar tepat, hemat dan bermanfaat.

Karena air merupakan sumber kehidupan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, maka sudah waktunya kita bersikap arif dalam mengkonsumsi air. Memang benar air adalah sumber kehidupan sehingga tanpa air maka kehidupan akan mustahil.(Syam Alam)

Rabu, 01 Juli 2009

RAKYAT BUKAN KUDA BEBAN


Saat ini terasa sekali nama ‘rakyat’ dikumandangkan dimana mana. Dari panggung kepanggung, juga diberbagai media massa cetak dan elektronik - bahkan didunia maya sekalipun - nama rakyat diagung agungkan sebagai pertaruhan dari sebuah perjuangan mulia seorang pemimpin ( dan bakal pemimpin tentunya).

Dengan mengepalkan jemari tangannya, banyak politisi yang mendadak ‘sangat mencintai’ rakyatnya sampai harus berteriak dengan nada tinggi, “Rakyat harus dibela!”. Dan seterusnya, sehingga rakyat demikian tersanjung. Betapa nama mereka demikian mendapat tempat dihati pemimpinnya.

Seharusnya, tanpa ada pertaruhan dan ‘pementasan’ dipanggung pun, rakyat tetap harus dibela termasuk dibela haknya untuk mendapatkan kehidupan yang layak, kemakmuran yang diidamkan serta dibela haknya dimata hukum. Pendek kata, rakyat tidak boleh termarjinalkan oleh ambisi meraih kekuasaan. Mau ada pemilu atau tidak, rakyat tidak boleh menjadi komoditas politik yang kemudian dilupakan.

Bila saat pemilu menjelang kemudian banyak pemimpin yang ‘berbaik hati’ memposisikan diri sebagai ‘pelayan rakyat’, seharusnya semangat menjadi ‘pelayan’ itu terus bersemi. Yang harus dipahami, pemimpin adalah juga entrepreneur politik. Artinya, mereka adalah aktor yang siap dengan gagasan cerdas, memperjuangkannya dan lalu siap pula menanggung risiko ditentang oleh oligarki kepentingan yang kuat. Bagi mereka rakyat bukan deretan angka yang dibutuhkan untuk meraih kekuasaan. Bagi mereka rakyat justeru memiliki bargaining position yang tinggi untuk diperjuangkan segala hak hidupnya.

Seorang ulama besar, Salim bin Abdullah pernah memberi nasihat kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz, “Wahai khalifah, jadikanlah seluruh rakyat sebagai ayah, saudara dan anakmu. Berbaktilah kepada ayahmu, peliharalah hubungan baik dengan saudara saudaramu dan sayangilah anakmu.”

Mungkin terlalu mengawang awang bila kita mengharapkan pemimpin negeri ini memperlakukan rakyat sebagaimana yang dinasihatkan Salim bin Abdullah. Setidaknya, cukuplah pemimpin kita tidak mencederai janji janji manisnya disaat dia menjadikan rakyat sebagai deretan angka untuk meraih kekuasaan.

Mereka tidak perlu (dan mungkin juga mustahil) berlaku bagai khalifah Umar bin Khattab yang rela memanggul gandum dipundaknya untuk diserahkan kepada rakyatnya yang kelaparan. Bagi rakyat negeri ini, cukuplah para pemimpinnya mencintai mereka sebagaimana perlakuan manis dan mesranya dikala masa kampanye berlangsung.

Bahkan mungkin saja mereka (baca: rakyat) tidak begitu mengharapkan pemimpinnya berlaku sebagai ‘pelayan’ yang peka menyuarakan keinginan ‘sang majikan’. Dinegeri ini rakyat sudah banyak menelan rasa kecewa dan sakit hati lantaran kerap disuguhi janji politik yang kemudian diingkari. Senyatanya mereka adalah pemilik negeri ini sehingga sungguh tak pantas kita memperlakukan mereka hanya sebagai kuda beban yang ditunggangi untuk dikorbankan. (Syam Alam)

Jumat, 15 Mei 2009


MENGGADAIKAN INTEGRITAS JABATAN

Sudah dianggap biasa pejabat publik menerima berbagai upeti dimasa jabatannya. Berbalut kata “hadiah” upeti ini kemudian dibudayakan sebagai upaya menjalin “saling pengertian” antara pejabat publik dengan pihak pihak yang ingin memanfaatkan kekuasaan sang pejabat. Karena itulah jangan kaget bila anda sering mendapatkan kabar bahwa banyak pejabat publik kita yang memiliki banyak rumah megah, berderet mobil mewah atau tanah yang terhampar dimana mana. Padahal bila menghitung dari gaji dan berbagai tunjangannya saja, mustahil semua itu mereka dapatkan.

Sebenarnya bukan semata mata soal upeti itu saja yang menjadi masalah. Yang paling mengkhawatirkan justeru adalah imbas dari pemberian upeti tersebut terhadap berbagai keputusan (baca: kebijakan) yang akan ditempuh sang pejabat. Mudah ditebak. Dipastikan pejabat ini nantinya akan menempuh keputusan yang menguntungkan atau melindungi kepentingan sang pemberi upeti. Apalagi pejabat itu memang bermental aji mumpung. Mumpung masih menjabat maka yang ada dibenaknya adalah bagaimana memaksimalkan keuntungan dari kekuasaannya. Jelas bukan untuk rakyat yang harusnya dibela kepentingannya, namun bagi isi perut, kepentingan keluarga atau kroni kroninya. Dalam benaknya hanya terpikir, “Kapan lagi toh bisa begini?.”

Entahlah, tiba tiba saja saya menerawang jauh dan ditelinga saya terngiang kata kata yang sulit saya lupakan yang terluncur dari bibir alharhum mantan Jaksa Agung Baharuddin Lopa. Begini katanya, “Jika saudara kebetulan pejabat tinggi dan membuat pesta pernikahan anak saudara, maka lihatlah niscaya tidak terhingga orang orang yang berkepentingan datang tanpa diminta mengulurkan bantuan dan sumbangannya. Sekali saudara menerima sumbangan itu, berarti saudara telah menggadaikan integritas jabatan dan pribadi saudara.” (Syam Alam)


SARIBAN NAMANYA ...

Sariban namanya. Dia sudah tidak muda lagi. Rambut putihnya menyembul dibalik topi caping yang selalu dikenakannya. Walau usianya sudah beranjak 66 tahun namun nafasnya masih panjang dan suaranya lantang. Dengan sepeda tuanya – yang disana sini dilengkapi alat alat kebersihan - dia tak pernah menyerah untuk terus berkeliling kota Bandung memunguti sampah yang berserakan, mencabuti paku paku dipepohonan atau menyapu jalan yang dirasa masih kotor. Disengat panas matahari otot otot tangannya tampak berkilat. Untuk ukuran orang seusianya, aktifitas yang dilakukan Sariban sungguh berat. Tapi dia tak hirau dengan semua keterbatasannya itu. Seakan tak ingin berkompromi dengan tubuh kecilnya yang telah beranjak senja.

Sariban namanya. Pensiunan karyawan Rumah Sakit Mata Cicendo ini mungkin bukan siapa siapa. Apalagi buat anda yang dulu terlanjur meneriakinya sebagai orang gila. Yah, Sariban memang pernah dianggap kurang waras, sinting atau setidaknya dianggap sebagai "nu gelo anyar" (orang yang baru gila).

Sariban namanya. Dia bertutur tentang berton lebih paku yang dikumpulkan dirumahnya. Bukan paku yang dia beli dari toko material untuk membangun rumah. Bukan. Tumpukan berton paku itu tadinya tertancap dipepohonan diseantero Bandung. Sariban tak tega. Makanya tangan kecilnya rajin mencabuti paku paku tadi dari pohon pohon dikota Bandung. Katanya, "Pohon pohon itu kalau bisa ngomong, pasti akan berteriak kesakitan dipaku sana sini."

Sariban namanya. Dia tidak mengharapkan bayaran kita. Tulus dia kayuh sepeda tuanya mengitari kota Bandung hanya untuk mengabdi pada komitmen yang dia paku dalam hatinya. Sebuah cita cita luhur untuk menjaga lingkungan hidup agar terus bersahabat, bersih, hijau dan berbunga. Sariban meyakini antara lingkungan hidup dengan manusia dulunya telah terjalin sebuah interaksi yang utuh. Untuk itu lingkungan hidup rela dimanfaatkan untuk menopang segala kebutuhan hidup manusia. Namun kini manusia telah melampaui batas maksimal pemanfaatan tersebut. Yang terjadi saat ini adalah penzoliman manusia atas lingkungan hidupnya. Sariban mengelus dada. “Sungguh ironis,” katanya. Maka akibatnya telah ditanggung manusia. Planet yang bernama bumi ini kini terasa semakin garing, panas dan kurang bersabat.

Sariban namanya. Dia kembali mengelus dada. Atmosfer yang semakin menipis, ketersediaan air yang semakin terkikis dan pepohonan yang semakin tergerus kegilaan jaman, adalah potret yang ingin dia sampaikan kepada kita.

Sariban namanya. Sungguh jangan remehkan apa yang tlah dia buat. Dia mungkin bukan siapa siapa. Tapi bila ada berjuta orang yang memiliki tekad seperti yang dia punya, kita tak perlu teriak soal global warming dan berbagai krisis lingkungan hidup lainnya.

Sariban namanya. Dia masih rajin memunguti berserak sampah yang mungkin tadinya kita buang dari balik jendela mobil. Tangannya yang berkilat diterpa panas matahari mengajarkan kita agar membuang sampah pada tempatnya. Sederhana memang. Tapi dari hal yang sederhana itu banyak orang yang kemudian terlihat menjadi seakan tidak beradab. Karena dengan semena mena telah menyakiti lingkungan hidupnya sendiri. (Syam Alam)

Powered By Blogger

SEBUTLAH INI HANYA KERISAUAN
DIRUANG TUNGGU
SALING BERBAGI MENYIKAPI HIDUP
YANG TERUS BERGERAK

DAN TAK PERNAH KOMPROMI

TERIMA KASIH ANDA SUDAH MENENGOK
SIAPA TAHU
KEGUNDAHAN SAYA
ADALAH JUGA
KEGUNDAHAN ANDA

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Semoga apa yang saya tulis ini bisa memberi arti. Saya tidak menciptakan. Saya hanya merangkainya saja. Merangkum yang tercampak ditrotoar. Menggamit yang hampir terlupakan. Tak lebih. Sebab saya hanya ingin berbagi mimpi. Boleh jadi itu mimpi kita bersama. Tentang negeri yang bisa menjadi tempat bernaung bagi rakyatnya. Tentang alam yang mau menjadi teman berkisah. Tentang kedamaian yang sudah lama tak berkirim sapa. Sebab perjalanan hidup ini telah banyak bercerita. Tentang anak manusia yang terusir dari tanahnya sendiri. Tentang anak manusia yang tak bisa menghidupi keluarganya. Tentang anak manusia yang dimiskinkan, dibuat tak berdaya bahkan untuk menolong dirinya sendiri tak kuasa. Sebab perjalanan hidup ini telah banyak mengajarkan, apalah artinya kita bila tidak mampu memberi arti bagi sesama.